Jumat, 11 November 2016

TEKANAN DARAH TINGGI PRIMER

Hipertensi Esensial atau Tekanan Darah Tinggi Primer

Ada dua bentuk dasar hipertensi. Satu di antaranya adalah hipertensi esensial atau tekanan darah tinggi primer yang dikenal cukup berbahaya, dan satu lainnya adalah hipertensi sekunder. Pada artikel ini akan membahas hipertensi esensial dalam bentuk yang umum. Ketika mengobati hipertensi esensial untuk tipe ganas, dapat menyebabkan kerusakan serius pada ginjal dan mungkin tidak hanya terbatas pada ginjal saja.hipertensi esensial atau hipertensi primer.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan di mana arteriol (pembuluh darah) menunjukkan perlawanan terhadap aliran darah normal. Faktor penyebab dapat berupa keturunan, neurogenik, pembuluh darah, nutrisi atau lingkungan. Resistensi terhadap aliran darah menyebabkan jantung harus bekerja ektra mengimbangi kebutuhan pemompaan jumlah darah yang lebih besar dalam rangka mengakomodasi kebutuhan tubuh. Hasilnya adalah peningkatan tekanan sistolik (angka tertinggi), diastolik (angka terendah), dan MEAN (angka terendah dikurangi dari angka tertinggi). Hipertensi esensial atau hipertensi primer bisa menjadi “silent killer”. Penderita hipertensi yang tidak diobati sangat berisiko terserang stroke, ginjal, dan penyakit pembuluh darah koroner. Umumnya penderita hipertensi lebih rentan terhadap serangan pembuluh darah Mini (stroke mini) yang mereka mungkin tidak menyadari. Perubahan juga akan terjadi pada retina mata, dan tingkat keparahan selalu terkait dengan tingginya peningkatan tekanan dan lamanya waktu peningkatan tekanan.

Karena hipertensi esensial atau hipertensi primer merupakan pembunuh berbahaya, maka membuat diagnosis adalah faktor paling penting dalam memerangi penyakit ini. Menjadi tugas bagi siapa saja yang ingin hidup sehat untuk mengajak orang-orang agar peduli akan hal ini. Saat ini, ada banyak tempat menyediakan skrining tekanan darah. Namun, ini mungkin tidak cukup jika hanya dilakukan secara berkala dalam rentan waktu yang lama, karena bisa ada banyak variasi dalam pembacaan alat skrining yang disebebkan oleh banyak faktor.Pemeriksaan tekanan darah Akan lebih efisian jika melakukan pemeriksaan dengan alat sendiri, sebab akan lebih mudah memonitor tekanan darah Anda setiap saat. Ukuran tekanan darah sistolik dan diastolik yang normal adalah sistolik 120mm/Hg dan diastolik 80mm/Hg. Untuk usia diatas 60, sistolik agak lebih tinggi masih dapat diterima bahkan jika tidak normal. Hipertensi rendah sampai menengah jika berada dikisaran 140-180 untuk sistolik dan diastolik 90-115. Elevasi terus-menerus di atas normal setelah 2-3 bacaan pada 3 hari yang berbeda, mengindikasikan bahwa Anda harus segera mencari dokter untuk evaluasi. Evaluasi ini biasanya terdiri dari memeriksa riwayat sakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah lengkap, dan urinalisis rutin (dengan pemeriksaan mikroskopis). Setelah pemeriksaan, dokter baru dapat menentukan apakah memberi Anda obat anti-hipertensi, atau menyarankan pola diet yang berbeda, termasuk perubahan pola makan. Meskipun tidak ada obat untuk hipertensi esensial atau hipertensi primer, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu diri Anda sendiri.

Dimulai dengan pola diet, pengurangan konsumsi garam merupakan langkah bijaksana meskipun belum terbukti menjadi faktor penyebab hipertensi esensial. Saat ini banyak tersedia makanan yang memiliki kandungan natrium sangat tinggi, jadi silakan baca dan perhatikan label pada produk makanan. Jika Anda memiliki kelebihan berat badan, kurangi kelebihan tersebut karena tetap menjaga berat badan pada tingkat normal akan menjadi faktor yang paling signifikan dalam mengontrol tingkat tekanan darah normal. Kurangi kadar lemak dalam pola makan Anda seperti makan daging merah, produk susu, makanan ringan, dan makanan yang digoreng. Makanan yang mengandung Vitamin B6 sangat baik untuk dikonsumsi, konsumsilah lebih banyak buah-buahan, sayuran; sereal bebas gula dan kacang-kacangan. Di atas semuanya adalah “tidak merokok”. Memulai program olahraga. Olahraga terbukti menjadi teman terbesar dalam membantu menjaga tekanan darah agar selalu berada pada tingkat normal. Olahraga setiap hari akan membuat Anda tetap aktif dan bugar dan cara hidup seperti ini menambahkan panjang usia Anda.

Langkah-langkah lain yang membantu adalah memperbanyak waktu istirahat, pengurangan stres, tidur malam yang cukup, dan sering liburan. Liburan tidak perlu lama, liburan singkat namun pada tempat yang tepat dapat menjadi nilai sangat besar untuk mengurangi stres. Mengontrol sendiri tekanan darah di rumah bisa menjadi cara paling nyaman untuk terus mengikuti perkembangan kondisi. goo.gl/OQRaUG

Sabtu, 20 September 2014

TUJUH ANCAMAN BAGI PENDERITA OBESITAS

Inilah beberapa di antaranya yang paling sering jadi ancaman penderita kegemukan/obesitas:

1. Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah
Obesitas merupakan penyebab utama terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler). Pasalnya, obesitas menyebabkan peningkatan beban kerja jantung, karena dengan bertambah besar tubuh seseorang maka jantung harus bekerja lebih keras memompakan darah ke seluruh jaringan tubuh. Bila kemampuan kerja jantung sudah terlampaui, terjadilah yang disebut gagal jantung. Tanda-tandanya, napas sesak dan timbulnya bengkak pada tungkai.

Pengidap kegemukan/obesitas juga sering mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) karena pembuluh darah menyempit akibat jepitan timbunan lemak. Kombinasi obesitas dan hipertensi ini tentu saja memperberat kerja jantung. Akibatnya, timbul penebalan pada dinding bilik jantung disertai kekurangan oksigen. Keadaan ini akan mempercepat timbulnya gagal jantung.

2. Gangguan Fungsi Paru-Paru
Lagi-lagi timbunan lemak menjadi pemicu masalah. Pada pengidap obesitas, timbunan ini dapat menekan saluran pernapasan. Ini bisa menyebabkan terjadinya, henti napas saat tidur (sleep apnea). Gangguan seperti ini lama-lama dapat menyebabkan gagal jantung juga dan berujung dengan kematian.

3. Menyebabkan Diabetes dan Peningkatan Kolesterol
Obesitas dapat menyebabkan terjadinya penyakit kencing manis (diabetes melitus). Ini disebabkan timbulnya gangguan fungsi insulin pada pengidapnya.

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh. Fungsinya antara lain memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi. Akibat gangguan fungsi insulin, gula tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga tetap beredar dalam darah. Ini dapat diketahui dari kadar gula darah yang meningkat.

Gangguan fungsi insulin ternyata juga mengakibatkan gangguan metabolisme lemak (dislipidemia). Ini dapat dilihat dari terjadinya peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL (kolesterol jahat), trigliserida, namun disertai penurunan kolesterol HDL (kolesterol baik).

Peningkatan kadar kolesterol jahat disertai penurunan kadar kolesterol berujung terbentuknya kerak dalam pembuluh darah (arterosklerosis). Arterosklerosis akan memperkecil diameter pembuluh darah, sehingga menyebabkan penyakit jantung koroner dan serangan stroke.

4. Gangguan Persendian
Obesitas akan menyebabkan peningkatan beban pada persendian penyangga berat. Misalnya persendian lutut sehingga lama-lama dapat menimbulkan peradangan persendian (osteoartritis). Gejala-gejalanya antara lain, nyeri pada sendi, diikuti dengan pembengkakan. Sendi juga menjadi kaku tak bisa digerakkan. Yang terparah, penderita tidak sanggup berjalan lagi.

5. Gangguan Sistem Hormonal
Obesitas ternyata juga mempengaruhi sistem hormonal dalam tubuh. Pada anak gadis, obesitas menyebabkan haid pertama (menarkhe) datang lebih awal. Pada wanita dewasa, obesitas dapat menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal (hiperandrogenisme, hirsutisme), dan gangguan siklus menstruasi.

Hiperandrogenisme berarti jumlah hormon androgen (lelaki) meningkat. Akibatnya terjadi hirsutisme (tanda maskulinisasi). Misalnya jerawatan, distribusi bulu2 di wajah dan badan, bahkan mungkin perubahan suara menjadi berat seperti suara lelaki.

Pada wanita, obesitas juga peningkatan risiko timbulnya batu empedu. Ini terjadi karena cairan empedu menjadi lebih kental.

6. Meningkatkan Risiko Penyakit Ganas
Hasil penelitian menunjukkan, pada wanita yang sudah mengalami menopause, obesitas meningkatkan risiko timbulnya kanker rahim (endometrium) dan kanker payudara. Sedangkan pada pria, kegemukan dapat meningkatkan risiko terserang kanker prostat dan kanker usus besar (kolorektal).

7. Gangguan Psikologis
Orang dengan obesitas juga seringkali mengalami gangguan psikologis berupa rasa rendah diri, keadaan depresi, bahkan bisa terkucil dari pergaulan sosial. Terlebih lagi bila lingkungan di sekitarnya tidak memberi dukungan, melainkan lebih banyak memperolok-olok kegemukannya.