Sabtu, 28 April 2012

Beri Bayi Makan Ikan Sebelum Usia 9 Bulan Untuk Mencegah Bengek


Bengek atau mengi adalah gangguan di saluran pernapasan yang membuat penderitanya susah bernapas dan terdengar suara ngik ngik saat bernapas. Bengek ini mulai muncul sejak anak-anak. Cara mengatasinya sederhana, beri makan ikan dan hindari antibiotik.

Anak-anak yang mulai makan ikan sebelum berusia 9 bulan cenderung tidak mudah menderita mengi ketika berusia pra-sekolah namun. Anak berisiko lebih tinggi terkena bengek jika diberi antibiotik pada usia satu minggu atau sang ibu meminum parasetamol selama kehamilan.

Peneliti menganalisis jawaban dari 4.171 keluarga yang dipilih secara acak terhadap pertanyaan mengenai anaknya ketika berusia enam bulan, 12 bulan dan empat setengah tahun.

"Mengi yang berulang-ulang adalah masalah kesehatan yang sangat umum pada anak-anak prasekolah. Jelas sekali pentingnya perawatan medis yang lebih baik serta pemahaman mengenai mekanisme yang mendasari. Tujuan dari penelitian kami adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko dan faktor pelindung penyakit ini," kata pemimpin penelitian, Dr Emma Goksor dari Rumah Sakit Anak Queen Silvia, Universitas Gothenburg, Swedia.

Peneliti mengamati anak-anak yang memiliki tiga kali episode mengi atau lebih, termasuk yang menggunakan obat asma ataupun tidak, kemudian membandingkannya dengan anak-anak yang tidak mengi.

Sampel selanjutnya dipecah menjadi anak-anak yang hanya mengalami mengi ketika dipicu pilek, dimana anak-anak juga mengalami mengi ketika pilek atau bereaksi terhadap alergi, asap tembakau, atau pergerakan fisik.

Para peneliti menemukan bahwa:

1. Satu dari lima anak memiliki setidaknya satu episode mengi dan 1 dari 20 anak telah mengalami mengi secara berulang (tiga episode atau lebih) selama setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 3/4 nya memakai obat asma, dan lebih dari setenganya didiagnosis asma.

2. Lebih dari separuh anak-anak yang mengalami mengi disebabkan virus mengi sebanyak 57%, dan 43% sisanya mengalami mengi karena dipicu berbagai hal lain.

3. Makan ikan sebelum usia sembilan bulan hampir menurunkan kemungkinan menderita mengi berulang sebesar 50 % sampai usia 4,5 tahun. Ikan yang paling umum dikonsumsi adalah ikan putih, salmon dan ikan datar.

4. Pemberian antibiotik spektrum luas pada minggu pertama berkaitan dengan peningkatan risiko mengi sebanyak dua kali lipat selama 4,5 tahun. Hanya 3,6% dari kelompok anak tanpa mengi yang menerima antibiotik, dibandingkan dengan 10,7% pada anak yang telah mengalami tiga episode mengi atau lebih.

5. Hampir sepertiga dari ibu yang diteliti (28,4%) pernah meminum beberapa obat selama kehamilan, 7,7% di antaranya meminum obat lain beserta parasetamol dan 5,3% hanya meminum parasetamol saja.

6. Kemungkinan paparan parasetamol terhadap kehamilan dalam kelompok mengi yang menggunakan obat asma adalah 12,4% dan meminum parasetamol selama kehamilan meningkatkan risiko mengi sebesar 60%.

7. Pada kelompok yang menginya dipicu banyak hal, risikonya meningkat lebih dari dua kali lipat dan dampaknya terlihat sangat jelas

Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa ikan diduga mengandung sifat pengurang risiko alergi dan bermanfaat mengatasi eksem pada bayi dan alergi rhinitis pada usia pra-sekolah. Penelitian lain telah menunjukkan efek perlindungan terhadap asma.

"Temuan kami jelas menunjukkan bahwa ikan memiliki efek perlindungan terhadap mengi pra-sekolah, bayi yang diberi antibiotik pada usia satu minggu dan yang ibunya mengkonsumsi parasetamol selama kehamilan memiliki risiko mengi, terutama mengi yang dipicu berbagai hal," pungkas Dr Goksor seperti dilansir Eurekalert.org, Rabu (23/11/2011).

Source: detikhealth

Rabu, 18 April 2012

Cara Mudah Deteksi Diabetes pada Bayi

Tidak seperti orang dewasa, gejala diabetes pada anak sulit diketahui. Pasalnya, mereka tidak dapat secara langsung mengomunikasikannya pada Anda.

Diabetes pada bayi merupakan salah satu kondisi kesehatan yang paling berbahaya karena sulit dideteksi. Namun, jika tidak diketahui dalam waktu yang tepat, bahaya seperti kerusakan parah pada bayi dapat terjadi dalam hitungan beberapa tahun.

Kerusakan mencakup penglihatan yang buruk, masalah ginjal, dan lain-lain. Gejala utama dari diabetes seperti kelelahan, sering haus, sering buang air kecil, sulit dipahami bagi orangtua karena bayi tidak bisa mengungkapkan dengan banyak kata.

Jika ingin memastikan bahwa si kecil tidak memiliki diabetes, Anda perlu waspada terhadap tanda-tanda tingginya gula darahnya.

Berikut tanda-tanda diabetes pada bayi, sebagaimana dilansir Boldsky, Rabu (18/4/2012).

Kehausan

Sama seperti orang dewasa, tanda-tanda diabetes pada bayi pun dilihat dari dehidrasi atau tidaknya dia. Sulitnya, bayi tidak dapat memberitahu sedang merasa haus sehingga Anda harus selalu waspada. Perhatikan berapa banyak jumlah botol air atau cairan yang bayi Anda habiskan dalam sehari.

Tanyakan dokter anak, berapa banyak asupan air yang normal bagi kelompok umur tertentu sesuai usia bayi Anda.
Jika selisihnya sedikit, tidak mengkhawatirkan. Tetapi jika perbedaannya sangat besar, Anda perlu penyelidikan lebih lanjut.

Sering buang air kecil

Sulit untuk diketahui berapa banyak bayi buang air kecil. Pertama, mereka belum terlatih ke toilet dan buang air kecil setiap saat. Namun, Anda dapat mendeteksinya dari berapa banyak popok yang diganti dalam satu hari.

Berat badan turun

Kebanyakan bayi turun berat badannya saat belajar berjalan. Jika anak tidak terlalu aktif tapi kehilangan berat badan meski jadwal makan teratur, maka bisa berpotensi diabetes.

Kelelahan

Biasanya saat tidur siang, bayi hanya tidur sebentar. Tetapi jika dia tidur lebih lama dari biasanya, Anda perlu untuk memeriksanya.

Jika bayi Anda menolak untuk bermain, tidur selama berjam-jam lebih dari normal dan menunjukkan kurangnya kekebalan, Anda perlu mengunjungi dokter anak segera.

Luka yang tidak sembuh

Jika Anda melihat bahwa sang buah hati mengalami luka atau luka kecil yang lama masa penyembuhannya, bisa jadi berpotensi diabetes.
(tty)